Membaca Pesan Tersirat dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

Tentu kata tidak sekedar rangkaian huruf, begitu pula kalimat tak sekedar susunan kata. Namun kata menjadi kalimat dan bait yang dilantunkan layaknya syair. Untuk menyampaikan risalah kebaikan pada manusia agar manusia mampu menemukan makna dibalik kata-kata.

Musik telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Tak terhitung jumlah penggemar dengan ragam genrenya, musik kerap menjadi sarana dalam menyampaikan dakwah, nilai-nilai kebaikan dan pesan-pesan inspirasi kepada pendengarnya.

Sekilas lagu Bunda Aisyah Istri Rasulullah yang tengah viral menyuratkan sebuah romantisme yang pernah terjadi dalam perjalanan cinta Rasulullah saw. Mungkin lewat lagu ini kita bisa memetik sebuah hikmah bahwa Aisyah istri Rasulullah adalah seorang wanita mulia yang akan selalu menjadi rujukan paripurna dalam berbagai persoalan hidup wanita di dunia.

Kisah pernikahan dan romantisme sepasang kekasih ini, disatu sisi juga patut kita amini. Bagaimana sikap romantis seharusnya mampu menjadi obat sekaligus menjadi vitamin pada kondisi Rumah tangga yang sedang kritis.

Jika kita bawa pada konteks Hukum Keluarga di indonesia. Begitu banyak pasangan suami istri yang kandas di pertengahan jalan, beberapa kali saya menyaksikan perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama mulai dari alasan yang remeh temeh hingga alasan yang sangat rasional. Hari ini, pernikahan kerap dianggap sebagai hubungan formal, “Jika tak cinta kita pisah saja, jika tak ada uang abang kutendang”.

Banyak teori pernikahan yang disajikan dalam Fiqh Munakahat kehilangan nilai filosofis dan estetis. Bahwa Ijab dan qabul sejatinya bukan sekedar ucapan lisan yang diikrarkan didepan banyak orang, tapi ijab dan qabul adalah sebuah kalimat satu nafas yang penuh dengan tanggung jawab dan konsekuensi terikat pada alam semesta dan PenciptaNya.

Ketik Rasulullah terlihat memperlakukan bunda Aisyah dengan so-sweetnya tentu bukan karena kecantikan fisiknya. Lebih daripada itu Allah ingin menunjukkan bahwa Rasulullah hadir ke dunia ini juga untuk menunjukkan bagaimana hakikat hubungan suami istri yang seharusnya. Bagaimana istri diperlakukan dengan mulia, bukan sebagai pekerja, bukan sebagai budak, bukan pula sebagai pelayan, tetapi sebagai manusia yang punya akal.

Rasulullah sebagai suami mengajarkan pendidikan dari perilaku yang diterapkan kepada orang-orang terdekatnya, Rasulullah sedang menunjukkan di balik romantis dan mesranya hubungan rasulullah dengan Bunda Aisyah ada kesetiaan yang tak terkalahkan hingga akhir hayat Rasululla bunda Aisyah tidak pernah memberikan keturunan dari rahimnya sendiri.

Dalam kisah cinta mereka, Rasulullah bukan hanya sebagai pasangan hidup, tapi Rasulullah hadir sekaligus sebagai guru yang mendidik, sebagai kakak, sebagai sahabat untuk Istrinya Bunda Aisyah. Yang selalu ada di saat suka dan duka istrinya. Sebagai suami Rasulullah tak sungkan melakukan apapun demi menyenangkan hati Aisyah. Disitu kita belajar bahwa Rasulullah pandai dalam mengelola cara untuk menyentuh hati dan menjaga perasaan perempuan.

Setiap pencipta lirik, dan pencipta lagu punya maksud. Niat awalnya adalah sebuah kebaikan. Namun sewaktu-waktu bisa disalahpersepsikan, tergantung yang melagukan dan mendengarkan. Semoga dari satu lagu ini, berkembang budaya literasi, menghadirkan banyak inspirasi, menumbuhkan kecintaan pada Rasulullah dan sang istri, sehingga menjamurlah buku-buku, skrispi hingga disertasi yang meneliti lebih dalam tentang bunda Aisyah Radiallahu ‘anha.

Jika ada yang tidak suka pada lagunya lantaran terlihat berlebihan dan tak beradab. Maka kritiklah secara fair dengan membuat lagu atau karya semisal yang menunjukkan bahwa lagu kita lebih baik dan punya keutamaan. Kita sudah banyak memiliki generasi yang lihai mengkritisi, namun kita masih belum fair dengan menghadirkan solusi.

Aisyah Chairil*

*Ketua Korps Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati Yogyakarta Besar