Di KTT OKI Kazakhstan, Indonesia Usulkan Formula “4+1” Tuk Selesaikan Krisis Rohingya

Para delegasi peserta KTT OKI 2017 di Kazakhztan, 10-11 September 2017

ASTANA, (Wartamuslimin.com) — Tim Delegasi Indonesia di Astana mendesak serta menyerukan negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) agar membantu mengakhiri penderitaan Muslim Rohingya di Myanmar.

Berbagai usulan pemerintah Indonesia tersebut dimuat dalam dokumen “OIC Chairman’s Summary Report of the Meeting of Heads of State and Government on the Rohingya Muslim Community in Myanmar“, yang disahkan oleh negara-negara anggota OKI di sela-sela berlangsungnya KTT OKI ke-1 mengenai Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi, di Astana, Kazakhstan, 10-11 September 2017.

“Selain memuat berbagai usulan Indonesia tersebut di atas, Dokumen OKI yang awalnya digagas oleh Presiden Turki, selaku Ketua OKI periode 2016-2019, juga telah memuat berbagai posisi negara-negara OKI mengenai situasi di Rakhine, tersebut,” seperti dilansir laman resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dari Sosbud OINB/BDSP, Senin (11/09/2017).

Indonesia menyatakan prihatin dan menyesalkan aksi kekerasan oleh rezim militer Myanmar atas etnis Muslim Rohingya tersebut. Indonesia menyatakan berkomitmen untuk terus mengatasi krisis kemanusiaan di Rakhine tersebut, serta bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil di Indonesia dan masyarakat internasional. Indonesia juga terus mendorong seluruh negara, termasuk negara anggota OKI, untuk melakukan pendekatan konstruktif.

Indonesia pun mengajak negara OKI untuk lebih mengedepankan bantuan nyata guna membantu seluruh penduduk di Rakhine, serta membantu seluruh pihak di Myanmar untuk menyelesaikan ”root causes” (akar permasalahan) dari situasi yang dialami Muslim Rohingya.

Terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Muslim Rohingya di Arakan atau disebut dengan Rakhine, Myanmar, Indonesia mendorong Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk menerima usulan strategi Indonesia untuk penyelesaian krisis Rohingya melalui pendekatan “4+1”.

Formula “4+1” meliputi, pertama, mengembalikan stabilitas dan keamanan; kedua, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan; ketiga, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine, tanpa memandang suku dan agama; dan keempat, pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan.

Ditambah satu elemen lain mengenai pentingnya rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine yang dipimpin oleh Kofi Annan dapat segera diterapkan.

Press TV melaporkan, para anggota OKI yang menghadiri pertemuan tersebut juga menyuarakan hal yang serupa. Mereka menyampaikan keprihatinannya yang mendalam terkait kekerasan yang menimpa warga etnis Rohingya.[NZ]