Tradisi Gotong Royong Mulai Pudar Sejak Masuknya Kolonial Belanda

KARANGANYAR, (Wartamuslimin.com) — Pakar Sejarah UNPAD dan Peneliti INSIST, Dr. Tiar Anwar Bachtiar baru- baru ini mengungkapkan fakta hilangnya tradisi gotong royong masyarakat yang berganti menjadi sikap individualis. Sikap ini masuk bersamaan dengan masuknya bangsa Eropa (Belanda-red), mereka mengajarkan kita hidup untuk diri sendiri.

“Orang Belanda membawa kebudayaan Eropa salah satunya ialah individualime, kita diajari hidup sendiri saja yang penting enak sendiri, kaya sendiri nggak peduli orang lain,” tuturnya dihadapan ratusan pemuda-pemudi Kajian INSPIRASI di Masjid Agung Karanganyar (21/04).

Dr. Tiar Anwar mengingatkan kembali kepada para pemuda dan pemudi Karanganyar tentang bahaya individualisme yang hadir di tengah-tengah umat. Dia pun mencontohkan salah satunya ialah hilangnya tradisi bergotong-royong di pedesaan misalnya ketika ada hajatan membangun rumah warga yang membutuhkan. Ketua RT cukup mengumpulkan warga dan kemudian mereka membahas bersama masing-masing saling membantu sesuai kemampuan, tak ayal dalam waktu dua atau tiga hari rumah pun berdiri.

Tradisi gotong royong, saling bantu, saling “support” (mendukung) kini pun telah hilang hingga puncak gunung. Peneliti INSIST itu pun mencontohkan jika dahulu setiap dia menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di gunung maka dengan mudah dia bisa mampir minum di rumah warga tanpa membayar. Kini meskipun masih ada yang menyediakan minuman untuk diminum namun harus membayar karena sudah dalam bentuk air minum kemasan dalam botol.

“Sekarang orang sudah individualis segala macam dibisniskan, saya pada tahun 90-an kalau jalan di kampung, naik gunung nggak susah cari minum dipinggir jalan, di setiap depan rumah pasti disediakan air dan itu nggak usah minta karena memang sengaja disediakan buat orang yang lewat”, paparnya.

Nilai-nilai Islam menyatu di dalam sendi-sendi masyarakat yang dahulu sudah menjadi karakter khas bangsa Indonesia kini hilang. Jika pada zaman Hindu bangsa kita diserang oleh tradisi rakyat yang melayani gustinya, maka kini bangsa kita diserang oleh sikap individualisme. Bahkan dalam syariat Islam sikap individualis ini disebut sebagai sikap ‘bakhil’ alias mementingkan kepentingan sendiri dan termasuk ciri orang yang jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Kehidupan individualisme mengikis tradisi gotong royong, tradisi saling tolong menolong, tradisi saling mensuport dan sikap ini termasuk ciri-ciri orang yang jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, jelasnya.

Rep : Kukuh Subekti / Red : Tori Nuariza