KMNH Ajak Muslimah Peduli Keamanan Pangan

SOLO, (Wartamuslimin.com) Komunitas Muslimah Nurul Huda (KMNH) UNS mengajak muslimah untuk peduli dengan kemanan pangan. Melalui kajian rutin setiap Jum’at KMNH yang diadakan di Ruang Seminar Masjid Nurul Huda dengan mengundang Dr. Setyaningrum Ariviani, S.TP, M.Sc., dosen Ilmu Teknologi Pangan  (ITP), FP, UNS (1/11).

Setyaningrum dalam paparannya membawakan materi seputar kemasan  dan bahan tambahan pangan (btp). Dalam kehidupan keseharian kita tidak bisa lepas dari makanan terutama berkaitan dengan kemasan yang digunakan ketika kita membeli makanan. Selain itu ketika seseorang membeli  atau memasak makanan pun tidak bisa lepas dari bahan tambahan pangan seperti penyedap rasa, pengawet makanan, dan pemanis makanan.

Kemasan makanan yang banyak kita temukan dalam keseharian biasanya menggunakan kertas dan plastik. Kertas yang digunakan sebagai pembungkus gorengan sering kali berasal dari kertas koran atau kertas hasil prin-prinan, sementara penggunaan plastik dapat kita temui ketika kita membeli makanan berkuah layaknya bakso, dan soto. Khusus penggunaan kertas hal yang patut kita waspadai bersama ialah tinta pada koran, atau kertas yang bisa membuat gorengan yang kita makan terkontaminasi oleh tinta.

“ Sebenarnya fungsi dari kemasan pangan ini ada tiga hal yang pertama memberikan perlindungan, memberikan efek promosi dan menjadi wadah memudahkan distribusi,” ujar Setyaningrum.

Setyaningrum menjelaskan ada beberapa bahan kemasan  dari kertas, plastik, logam dan kombinasi dari ketiga jenis bahan kemasan. Salah satu yang menyebabkan makanan menjadi tidak aman ialah pemilihan jenis kemasan dan jenis makanan yang dikemas. Bahaya dari kemasan pangan yang pertama ialah adanya transfer senyawa yang terdapat dalam kemasan kedalam produk pangan, terutama yang terjadi pada kemasan-kemasan plastik.

“Plastik itu merupakan polimer yang nanti monomermonumernya bisa tertransfer atau bisa pindah dari plastiknya ke bahan pangannya, itu yang menjadi sumber bahaya,” terangnya.

Berikutnya yang berbahaya ialah adanya interaksi antara kemasan dan bahan yang dikemas yang menyebabkan terbentuknya senyawa yang berbahaya. Pada dasarnya kemasan dan bahan pangannya  tidak ada masalah, namun cara penggunaan yang  tidak tepatlah yang menyebabkan masalah. Misalnya jenis bahan pangan yang sifatnya asam kemudian menggunakan kemasan yang jika digunakan untuk mengemas bahan pangan asam akan timbul reaksi senyawa yang berbahaya. Reaksi senyawa yang timbul akibat ketidaktepatan penggunaan kemasan justru menyebabkan bahan pangan menjadi  bersifat toksik atau beracun.

Bahan kemasan berbahan plastik memiliki kode-kode tertentu yang biasanya ada di bagian bawah kemasan. Kode-kode tersebut berupa simbol segitiga pada kemasan plastic yang didalamnya terdapat angka 1 hingga 7. Kode segitiga angka 1 dan 2 hanya bisa digunakan untuk sekali pakai seperti botol air mineral karena jika digunakan berulang-ulang dapat menyebabkan kanker. Jika kode yang tertera terdapat angka tiga dan terdapat huruf V maka jenis ini sangat berbahaya menimbulkan penyakit ginjal, hati. Selanjutnya kemasan plastik yang aman ialah yang terdapat angka 2, 4, 5, dan 7 (SAN dan ABS), dan yang tergolong berbahay ialah yang terdapat angka 1, 3, 6 dan 7 (PC).

“ Kode- kode itu ada maknannya, efeknya memang tidak suddenly atau tiba-tiba, ketika melihat botol-botol berserakan lalu berencana membakarnya maka membakar itu anda mencemari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, kalua botol-botol seperti ini diberikan pada pengepul botol untuk kemudian diproses lebih lanjut,” jelasnya.

Berikutnya ialah tentang  Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang funsginya ialah untuk mempengaruhi sifat dan bentuk pangan. Pada BTP terdapat Acceptable Daily Intake (ADI) batas maksimum BTP yangh dapat dikonsumsi berdasarkan (mg/ kg BB) tanpa menimbulkan efek merugikan pada kesehatan. Selain ADI terdapat Maximum Tolerable Daily Intake (MTDI) jumlah maksimum suatu zat (mg/ kg BB) yang dapat dikonsumsi dalam sehari tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan.

“Semua ada pengaturannya misalnya untuk pengawet asam benzoat, Peraturan Kepala BPOM RI No 36 Tahun 2013 ADInya adalah 0-5 mg/ kg berat badan, artinya aman kalau maksimum 5 mg/ kg berat badan” terang Setyaningrum.

BTP yang lazim dijumpai dalam masyarakat kita di antaranya ialah pemanis seperti sakarin dengan aturan ADI 0-5 mg/ kg berat badan dan penyedap rasa seperti Monosodium Glutamat (MSG) yang tidak dibatasi asal digunakan sesuai fungsinya tidak berlebihan. Meskipun semua BTP di atas termasuk aman namun pada beberapa kasus memang menimbulkan efek samping bagi sebagian konsumen. Sementara untuk makanan berwarna pilih makanan yang warnanya tidak terlalu mencolok atau terang sehingga aman untuk dikonsumsi.

Reporter: Kukuh Subekti