Muslim Rohingya Dibantai, Pemuda Muhammadiyah : “Usir Dubes Myanmar dari Indonesia”

JAKARTA, (Wartamuslimin.com) – Memburuknya situasi kekerasan serta hilangnya ratusan nyawa beberapa hari belakangan di negara bagian Rakhine Myanmar kembali membuka mata dunia internasional akan bahaya nyata tindakan sewenang-wenang militer terhadap Muslim Rohingya.

Ribuan penduduk Rohingya terpaksa melarikan diri, Kemudian, laporan media muncul mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar dilaporkan telah memindahkan ribuan penduduk desa-desa Muslim Rohingya, bahkan membakar rumah-rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

Hal ini mendorong keperihatinan mendalam banyak pihak , termasuk diantaranya adalah Dahnil Anzar Simanjuntak selaku Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, akhirnya turut angkat bicara.

“Apa yang terjadi di Myanmar bagi saya bukan konflik. Namun, pembantaian. Pembantaian yang sudah lama berlangsung namun dunia seolah tak mampu berbuat apa-apa, namun, sekedar bersikap menunjukkan Keprihatinan dan empati yang menurut Saya basa-basi dalam pergaulan diplomasi perdamaian dunia” pungkas Dahnil seperti dilansir dari Panjimas.com.

“Tahun 2012 yang lalu, saya bersama delegasi Religion for Peace sempat mencoba mediasi dialog dan masuk ke Camp pengungsian etnis Rohingya, namun tidak bisa. Jadi Sudah lama Berbagai mediasi dialog dan lobby terhadap pemerintah Junta Militer sampai dengan pemerintah hasil pemilu saat ini yang dikendalikan oleh Peraih hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, dilakukan berbagai komponen, namun selalu gagal dan tidak berbuahkan hasil yang signifikan. Bagi perdamaian dan penghentian kekerasan kepada Etnis Rohingya. imbuhnya.

Bahkan misi-misi kemanusiaan seperti bantuan logistik dan kesehatan sulit menembus dan mendapat akses, jadi menurut saya yang paling dibutuhkan saat ini, oleh etnis Rohingya yang sedang dihadapkan dengan fakta pembantaian oleh militer Myanmar bukan bantuan logistik dan kesehataan. Tapi, tekanan Politik dari dunia terhadap pemerintah Myanmar yang sedang melakukan pembantaian, tandas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah.

“Jadi, PBB seharusnya menekan Myanmar secara politik, menghukum mereka, karena terang melakukan kejahatan Kemanusiaan secara brutal, dan seolah dunia melegalkan pembantaian tersebut.”

lebih lanjut Dahnil menuturkan, “Saya berharap pemerintah Indonesia bisa memimpin menyampaikan sikap tegas dan terang dalam bentuk tekanan Politik luar Negeri dengan menghimpun Negara-Negara yang peduli dengan tragedi Kemanusiaan di Myanmar tersebut.”

“Bersikap tegas misalnya melakukan peringatan diplomasi yang keras misalnya dengan menarik Dubes RI dari Myanmar, dan meminta Dubes Myanmar di Indonesia untuk meninggalkan Indonesia selama prilaku “legalisasi” pembantaian etnis Rohingya dihentikan dan menemukan jalan damai,” ujarnya.

Pemerintah Myanmar mengklaim operasi dilancarkan untuk memburu para militan Rohingya. Sementara itu sekitar 4.000 penduduk Rakhine yang bukan beragama Islam sudah di  evakuasi oleh tentara Myanmar agar tidak terperangkap dalam kekerasan.

“Bahkan, pada taraf berikutnya meminta Sidang khusus ASEAN agar mengeluarkan Myanmar dari keanggotaan ASEAN dan menghimpun Negara-Negara yang menjunjung tinggi HAM untuk melakukan embargo terhadap Myanmar. Political diplomacy pressure seperti ini agaknya belum dilakukan oleh dunia, termasuk oleh Indonesia, saya menyarankan Pemerintah Indonesia menginisiasi upaya ini,” pungkasnya. [ES/pmc]