Innalillahi wa innaillaihi rajiun, Kyai Kharismatik Berpulang

Kamis, 3 Muharram 1440 H bertepatan pada 13 September 2018 sekitar pukul 14.30 WIB di RS Siloam Surabaya telah berpulang ke hadirat Allah SWT, KH Muhammad Ma’shum, Pimpinan dan Pendiri Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso. Seorang kyai kharismatik yang hidupnya dipergunakan untuk kegiatan dakwah, pendidikan, dan perjuangan umat Islam. KH Ma’shum Bondowoso wafat dalam usia 65 tahun meninggalkan 3 istri, 11 anak, 25 cucu, dan 1 cicit.

KH Ma’shum Bondowoso selalu aktif dalam perjuangan umat Islam. Beliau juga merupakan salah satu penggerak gerakan 212. Beliau juga turut hadir dalam Ijtima’ GNPF Ulama dan Tokoh Nasional di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu yang lalu. Meskipun dalam kondisi sakit kanker dan dengan diinfus beliau tetap semangat mengikuti ijtima’ ulama GNPF.

Pada tanggal 10 Agustus 2018 yang lalu ketika beliau sakit dan dirawat di RS MMC Kuningan Calon Presiden RI , Prabowo Subianto juga sempat menjenguk beliau. Walaupun dalam keadaan sakit keras, KH Ma’shum Bondowoso tetap memberikan masukan dan menitipkan pesan kepada Prabowo Subianto.

Segenap ulama-ulama besar di Indonesia dan tokoh-tokoh nasional turut mengucapkan ucapan belasungkawa kepada beliau diantarannya: Ustad Bahtiar Natsir, KH Muhammad Arifin Ilham, Jend (Purn) Gatot Nurmantyo, dll.

Riwayat Hidup

KH Ma’shum Bondowoso lahir di Ambon 65 tahun yang lalu. Beliau adalah alumni dari Pondok Pesantren Gontor Ponorogo. Pada awalnya beliau hanya mengasuh 3 orang santri dengan sistem pendidikan tradisional di sebuah masjid yang dibangun berkat swadaya masyarakat sekitar. Hingga akhirnya beliau mampu mendirikan pondok pesantren yang dinamai dengan Pondok Pesantren Al Ishlah pada tahun 1970. Sebelumnya pondok pesantren ini bernama PP Miftahul Ulum, seiring berjalannya waktu pondok pesantren yang beralamat di Jl, Raya Jember Km. 07 No. 17-19, Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowos, Jawa Timur ini berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al Ishlah yang menjadi lembaga pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi.

Berangkat dari keluarga sederhana beliau tidak pesimis bahkan justru sangat gigih dalam upaya memajukan pendidikan Islam. Atas usaha dakwah dan pendidikannya kini Pondok Pesantren Al Ishlah menjadi salah satu Pondok Pesantren terbesar di Bondowoso bahkan santrinya juga berasal dari mancanegara. Dalam hidupnya beliau sangat berpegang teguh hadits  “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat kepada orang lain. Hadits ini juga dijadikan slogan dari Pondok Pesantren Al Ishlah.

Meskipun divonis kanker dan hanya hidup dengan satu ginjal semangat beliau dalam berdakwah dan mengajar harus sangat ditiru. Ungkapan yang sangat terkenal dari beliau yaitu Hidup hanya satu kali, hiduplah yang berarti. Untuk apa takut mati, pada akhirmya juga tetap mati. Jadilah manusia yang berarti.

Beliau juga pernah menyampaikan puisi yang berkesan bagi banyak orang:

Kereta Api dinamakan sepur

Diatas sepur ada kondektur

Daripada mati diatas kasur

Lebih baik mati di medan tempur

Doa dan ucapan belasungkawa semoga kita haturkan kepada beliau. Allahumaghfirlahu warhamhu wa aafihi wa’fu anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkholahu, waj’al jannata matswahu, bi rahmatika yaa arhamar raahimin.