Temui Presiden Jokowi, Ketum PB PII Minta Pemerintah Perhatikan Pendidikan Pelosok

Jakarta – Rafani Tahun, Ketua Umum PB PII, meminta pemerintah memberikan perhatian serius pada pendidikan di daerah-daerah Pelosok. Hal itu disampaikan Rafani saat kunjungan pimpinan-pimpinan organisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus. Hadir Ketum PB HMI, PII, GMKI, KAMMI, Hikmabudhi, GMNI, PMII, KMHDI, LMND, IMM, Hima Persis dan GMNI, Rabu, (23/3).

 

Rafani, sapaan akrab Rafani Tuahuns, menjelaskan “Melalui Menteri Sekretaris Negara Pratikno, kami memberikan Film Dokumenter ‘Sema Sangamu’. Ini potret program pelajar pemberdaya PII di suku pedalaman Dusun Uetea, Desa Uekuli, Kab Tojo Una una, Sulawesi Tengah. PII mengirimkan relawan terbaik, melakukan pemberdayaan di pelosok selama sebulan penuh”. jelasnya.

 

PB PII yang baru saja melaksanakan program pelajar pemberdaya, di lokasi tersebut Ra fani menemukan kondisi pendidikan pelosok yang butuh perhatian serius dari pemerintah.

(Foto: Cipayung Plus, Ketua PB PII Temui Presiden Joko Widodo (23/3)
(Foto: Cipayung Plus, Ketua PB PII Temui Presiden Joko Widodo (23/3)

“Dua problem mendasar yang kami temui di pelosok, buta aksara dan buta bahasa. Masih banyak di pedalaman sana yang tidak bisa baca dan tulis. Bahkan tidak bisa berbahasa indonesia. Padahal bahasa indonesia adalah bahasa persatuan,” imbuhnya.

 

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi juga menjelaskan tentang maksud pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) sebagai upaya menggeser pembangunan, yang selama ini terlihat Jawa Sentris menjadi Indonesia Sentris.

 

“Bagi kami, IKN akan berhasil maksimal bila ditunjang dengan pemerataan pendidikan di daerah-daerah tertinggal. Program Pelajar Pemberdaya PII ini adalah upaya berkontribusi untuk itu”. Terang Mahasiswa asal Sulawesi Tengah itu.

 

Berbagai isu menjadi bahan dialog para ketua umum bersama presiden. Diantaranya isu kelangkaan sembako, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara. (AF)